Asal usul Kabupaten Sampang

Madura adalah nama sebuah pulau yang terletak di sebelah timur laut Pulau Jawa dan termasuk dalam provinsi Jawa Timur.

Jembatan Suramadu (Surabaya – Madura) merupakan pintu masuk utama dan satu-satunya jalur darat menuju Madura.

Selain itu, bisa juga melalui jalur laut dari Tanjung Perak di Surabaya menuju Pelabuhan Kamal di Bangkalan dan dari Pelabuhan Jangkar Situbondo menuju Pelabuhan Kalianget di Sumenep.

Pulau Madura terdiri dari empat kabupaten, antara lain Bangkalan, Sampang, Pamekasan dan Sumenep. Budaya dan tradisinya memilki pengaruh tersendiri terhadap sejarahnya yang panjang. Dan kali ini akan membahas asal-usul salah satu kabupaten dari pulau yang terkenal dengan karapan sapinya tersebut, yaitu Kabupaten Sampang.

Sejarah Sampang hanya diketahui berdasarkan beberapa prasasti yang ditemukan. Prasasti pertama ditemukan di situs Sumur Daksan di Desa Dalpenang. Pada tahun 835 Masehi, di wilayah Kabupaten Sampang telah ditemukan adanya komunitas masyarakat. Komunitas ini merupakan komunitas kaum Budha yang dipimpin oleh Resi (guru spiritual) sebagai sentralnya.

Kemudian di situs Bujuk Nandi ditemukan prasasti yang kedua di Desa Kamoning. Prasasti ini menyebutkan pada tahun 1379 ditemukan adanya kominitas yang dipimpin oleh Durga Shiva Mahesasura Mardhini. Prasasti tersebut diperkirakan bekas peninggalan kaum Hindu – Budha.

 

Sedangkan prasasti ketiga ditemukan di situs Pangeran Bangsacara di Desa Polagan. Situs tersebut ditemukan di dasar umpak atau candi yang belum jadi dan tertulis 1305 Saka atau bertepatan dengan tahun 1983 Masehi. Ketika pembangunan sebuah kuil Budha dengan relief yang menceritakan kisah seorang pangeran bernama Bangsacara dan berisi pesan moral dan agama.

Situs Pangeran Santo Merto menjadi tempat ditemukannya prasasti yang keempat. Prasasti ini menunjukkan tanggal kematian Pangeran Santo Merto, yang merupakan paman Praseno. Pada prasasti tersebut bertuliskan 1496 Saka atau 1574 Masehi.

Lalu situs yang terakhir adalah Makam Rato Ebuh yang juga terletak di Desa Madegan. Tertulis tahun 1546 Saka atau pada tahun 1624 Masehi pada prasasti ini, yang merupakan tahun dimana Praseno diangkat oleh Sultan Agung dengan gelar Pangeran Cakraningrat I.

Dari hasil temuan prasasti dan situs ilmiah tersebut, akhirnya pihak Pemkab Sampang menggelar seminar penentuan hari jadi Kabupaten Sampang. Peneliti sejarah dari Fakultas Sastra Jurusan Arkeologi Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta diundang sebagai pembicara pada seminar tersebut.

Kesimpulan yang didapat dari seminar menyatakan bahwa situs Sumur Daksan, Bujuk Nandi, Pangeran Bangsacara dan Pangeran Santo Merto tidak bisa dijadikan sebagai referensi. Tidak ada bukti atau referensi kepustakaan otentik yang mendukung menjadi alasannya.

Khusus prasasti Pangeran Santo Merto, sebenarnya disertai bukti tulisan ahli sejarah asal Belanda, HJ De Graff. Namun, tulisan tersebut dinyatakan tidak representative dijadikan dasar penetapan Hari Jadi Kabupaten Sampang. Sementara itu, situs Makam Rato Ebuh dilengkapi dan didukung dengan daftar referensi kepustakaan.

Sehingga, situs Makam Rato Eboh yang ditetapkan sebagai acuan untuk menentukan Hari Jadi Kabupaten Sampang.

Sedangkan asal-usul Kata Sampang di ambil dari perjalanan Jokotole melalui daerah-daerah utara sampai Omben belok ke selatan akhirnya ke Banyubenger (Nyubenger) dari perjalanan itu banyak daerah yang tak terlewati oleh Jokotole kata orang Madura “E’ESEMPANGEH”.

Sehingga menurut cerita daerah-daerah yang dilewati masyarakat waktu itu memberi nama “SAMPANG” itulah asal mula nama Sampang yang telah dikenal ditengah-tengah khalayak ramai dari jaman dahulu sampai saat ini.

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *