Keindahan Vihara Avalokitesvara

 

Vihara Avalokitesvara atau sering disebut sebagai kelenteng Kwan Im Kiong merupakan salah satu dari 3 kelenteng yang ada di Madura. Vihara ini terletak di Dusun Candi, Desa Polagan, Kecamatan Galis, Kabupaten Pamekasan, Pulau Madura. Lokasinya bersebelahan dengan destinasi wisata Pantai Talang Siring.

Menurut keterangan, bangunan seluas 3 herkar ini didirikan pada abad 18. Vihara ini sering disebut kelenteng Kwan Im Kiong karena di dalamnya terdapat patung Kwan Im Po Ssat alias Avalokitesvara, Dewi Welas Asih. Patung tersebut berdiri setinggi 155 cm, tebal tengah 36 cm dan tebal bawah 59 cm.

Awalnya kelenteng Pamekasan merupakan sebuah bangunan bercungkup dengan atap daun kelapa. Bangunan tersebut dibangun sekitar awal tahun 1900-an yang berfungsi sebagai tempat menampung penemuan patung-patung dari kerajaan Majapahit yang dikirim untuk salah satu kerajaan di Pamekasan.

 

 

Vihara Avalokitesvara memiliki keunikannya tersendiri. Di tengah komplek peribadatan umat tridarma itu, tampak berdiri mushala dan pura. Inilah yang membuatnya unik. Ada rasa saling menghormati dan toleransi yang kental di dalamnya. Dengan keberadaan mushala dan pura di dalamnya, Vihara Avalokitesvara dianggap sebagai simbol kerukunan umat beragama.

Mushala berukuran 4 x 4 meter yang berwarna hijau itu terlihat kontras dengan bangunan vihara yang dominan dengan warna merah. Kubah mushala tersebut berbentuk piramid berundak tiga, mirip seperti masjid umumnya di Pulau Jawa. Lokasinya berada tepat di depan kanan vihara. Meski tidak besar, pihak vihara menyediakan tempat berwudhu, sarung, sajadah dan mukena.

Selain mushala, ada tempat ibadah untuk umat lainnya. Di dalam komplek vihara terdapat pura yang ukurannya 3 x 3 meter, sedikit lebih kecil dari mushala. Pembangunan pura atas kapolwi Madura saat itu yang berasal dari Bali dan menganut agama hindu.

Berbicara mengenai Vihara Avalokitesvara yang sarat akan toleransi umat beragama, mari kita mengenal sejarah bagaimana vihara ini dibangun dan berdiri sampai sekarang.

 

 

Pada abad 16, terdapat keraton Jamburingin yang berada di Proppo, Pamekasan. Keraton ini masih menjadi bagian dari kerajaan Majapahit. Majapahit sebagai penguasa wilayah Jamburingin membantu pembangunan tempat ibadah berupa candi. Tepatnya di kampong Gayam, kurang lebih 2 km ke arah timur keratin Jamburingin. Kerajaan majapahit mengirimkan patung-patung pemujaan menggunakan kapal laut melalui Pantai Talang Siring yang berjarak sekitar 35 km dari Jamburingin. Saat itu Pantai Talang Siring dijadikan tempat berlabuh kapal-kapal dari seluruh penjuru nusantara.

Namun pengiriman ke lokasi candi gagal karena angkutan rusak. Sehingga penguasa Keraton Jamburingin memutuskan untuk membangun candi di sekitar Pantai Talang Siring. Akan tetapi pembangunan candi di Pantai Talang pun tidak terlaksana seiring perkembangan kerajaan Majapahit yang mulai memudar. Selain itu agama islam mulai tersebar di daerah Pamekasan dan mendapat sambutan baik oleh msayarakat. Akhirnya, patung-patung kiriman dari Majapahit pun dilupakan orang serta lenyap terbenam dalam tanah,

Kemudian pada awal abad 18, patung-patung tersebut ditemukan kembali secara tidak sengaja oleh petani saat menggarap ladangnya. Pemerintah Hindia Belanda saat itu menugaskan bupati Pamekasan untuk mengangkat dan memindahlan patung-patung tersebut ke kadipaten Pamekasan. Namun, patung-patung dari Kerajaan Majapahit tersebut gagal diangkut dan dibiarkan di tempat semula.

Sekitar abad 19 sebuah keluarga keturunan Tionghoa membeli tanah dimana patung-patung itu berada. Setelah dibersihkan, diketahui bahwa patung-patung tersebut adalah patung Budha versi Majapahit. Lalu patung-patung peninggalan Kerajaan Majaphit itu dikumpulkan dalam sebuah bangunan bercungkup dengan atap daun kelapa. Seiring dengan berjalannya waktu, bangunan tersebut mulai dibenahi dan terbentuklah Vihara Avalokitesvara (Kwan Im Kiong) yang berdiri hingga saat ini.

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *