Peninggalan Reruntuhan Pababaran

Keberadaan sebuah kota tentu tidak lepas dari suatu peristiwa sejarah di masa lalu. Di Kabupaten Sampang, Pulau Madura, terdapat Reruntuhan Pababaran yang adalah salah satu tempat bersejarah bagi masyarakat Sampang.

Reruntuhan Pababaran merupakan tempat Raden Trunojoyo lahir yang merupakan pejuang kemerdekaan. Reruntuhan Pababaran ini berupa petilasan tempat lahirnya Raden Trunojoyo yang di dalamnya terdapat tempat untuk menanamkan ari-ari Raden Trunojoyo.

Masyarakat sekitar percaya bahwa tempat ini adalah lokasi bersejarah sebagai tempat dimana Raden Trunojoyo lahir dan disemayamkan. Oleh karena itu disebut sebagai pababaran (tempat kelahiran) dari peristiwa bersejarah baik di era monerki atau dalam era revolusi.

Kawasan ini juga merupakan salah satu kawasan lindung cagar budaya dari pemerintah Provinsi Jawa Timur. Situs sejarah ini sendiri terletak di jantung Kota Sampang, tepatnya di Kelurahan Rongtengah. Akses untuk menuju ke sana sangatlah mudah dan bisa dijangkau baik oleh kendaraan umum maupun kendaraan pribadi.

Berdasarkan arti Bahasa Madura yang berkembang di masyarakat, pababaran mempunyai arti sebagai tempat lahir.

Konon nama pababaran sendiri dijadikan nama tempat lahirnya seorang pejuang islam yang bernama Raden Trunojoyo. Situs ini sangat erat kaitannya dengan proses kelahiran Raden Trunojoyo.
Reruntuhan Pababaran ini dalam setiap tahunnya dijadikan sebagai lokasi ziarah dari kepala daerah pada hari jadi Kabupaten Sampang.

Nila Prawata atau dikenal dengan sebutan Raden Trunojoyo bagi masyarakat setempat dianggap sebagai salah satu pejuang yang gigih mempertahankan dan menumpas kebatilan pada saat itu.

Menurut salah satu budayawan Sampang, Ali Daud, dari kelahiran Raden Trunojoyo ini kemudian dijadikan nama kampong pababaran.

Orang zaman dahulu mempercayai bahwa setiap orang memiliki saudara sekandung, dimana setiap bayi yang lahir pasti bersamaan dengan ari-ari sebagai saudara sekandungnya.

Oleh karena itu masyarakat setempat menganggap ari-ari itu saudaranya Raden Trunojoyo. Sehingga ari-ari tersebut dianggap bersejarah oleh masyarakat.

Raden Trunojoyo adalah putra dari Demang Malaya Kusuma yang dilahirkan di kampong Pababaran, Sampang. Demang Malaya Kusuma adalah keturunan dari Pangeran Cakraningrat I atau saudara muda Raden Undakan dengan gelar Pangeran Cakraningrat II.

 


Ketika berumur 7 tahun, Raden Trunojoyo dituduh telah berbuat jahat kepada Amangkurat I Mataram. Akibat hal itu Demang Malaya Kusuma bersama istri dan dua putrinya dihukum mati. Setelah kematian keluarganya, kehidupan Raden Trunojoyo menjadi tidak menentu dan ia menjadi buruan Kerajaan Mataram.
Pangeran Cakraningrat II yang merupakan pamannya bahkan mengancam untuk membunuh Raden Trunojoyo tanpa alasan yang jelas. Namun, Raden Trunojoyo selamat dari hukuman mati karena masih anak-anak dan masih mendapat perlindungan dari ulama Mataram bernama Pangeran Kajoran.
Adipati Anom dengan gelar Amangkurat II dinobatkan sebagai raja Mataram. Ia meminta bantuan kepada Belanda untuk melakukan perlawanan terhadap Raden Trunojoyo. Namun mesi Amangkurat II dibantuk tentara Belanda, usaha untuk melakukan perlawanan Raden Trunojoyo selalu gagal. Selanjutnya Amangkurat II mengeluarkan Pangeran Cakraningrat dari II dari tahanan. Lalu dengan bantuan Pangeran Cakraningrat II dan Kapten Speelman dari Belanda, Raden Trunojoyo dapat ditangkap di daerah Gunung Kelud. Sebagai pahlawan asli Sampang, sampai sekarang belum ada referensi dimana jasad Raden Trunojoyo dikebumikan.
Bagi masyarakat Sampang, nama kampung yang lebih dikenal dengan nama zaman dahulu diyakini masih menyimpan banyak cerita dan keunikan tersendiri. Dimana hal ini sangat erat kaitannya dengan proses pembentukan Kabupaten Sampang yang mempunyai nilai sejarahnya sendiri.

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *