Sejarah Pulau Mandangin di Sampang

Pulau Mandangin adalah desa dan pulau yang berada di kecamatan Sampang, Kabupaten Sampang, Jawa Timur. Bentuknya yang berupa kepulauan membuat tempat ini menjadi istimewa. Luas pulau Mandangin kurang lebih 90,04 ha. Ukurannya memang tidak terlalu luas, namun dibalik itu semua tersimpan sejarah perjalanan pulau mandangin yang sangat memukau.

Tidak adanya sejarahwan yang menulis dalam coretan tinta serta kurangnya rasa peduli dari masyarakat Pulau Mandangin membuat pengumpulan data untuk menguak sejarah muasal pulau ini begitu rumit. Berbagai hipotesa mencoba untuk menggalinya, meski terkadang datang dari rekayasa ilmiah yang letak kebenarannya jauh dari kata sempurna.

Data-data yang berserakan dimodifikasikan dengan beragan sampel yang digali dari beberapa tokoh masyarakat Pulau Mandangin. Sebelumnya mereka memang pernah memikirkan dan menggalinya, meskipun itu hanya mereka catat dari pikirannya, bukan dalam bentuk tulisan. Ada beberapa versi tentang asal muasal masyarakat Pulau Mandangin.

Konon masyarakat yang menghuni Pulau Mandangin berasal dari orang-orang buangan kerajaan yang menderita penyakit kulit yang akut (lepra).

Hal itu pula yang membuat pulau ini disebut sebagai pulau lepra.

Raja-raja pada zaman dahulu kala, ketika mendapati masyarakatnya melakukan tindakan yang menyalahi aturan kerajaan yang teramat fatal, raja-raja tersebut tidak segan-segan membuangnya di pulau-pulau kecil yang tidak berpenghuni, salah satunya adalah Pulau Mandangin. Maka, dari sanalah masyarakat Pulau Mandangin dengan sendirinya terbentuk.

Sedangkan versi lainnya menyebut bahwa masyarakat Pulau Mandangin berasal dari orang-orang yang datang untuk bertapa. Karena saat itu pulau tersebut merupakan pulau yang strategisuntuk bertapa. Orang-orang yang bertapa tersebut membawa sanak keluarganya.

Lalu ada juga yang menyebut bahwa saudagar-saudagar yang datang ke Pulau Mandangin adalah nenek moyang masyarakat dari pulau tersebut. Saudagar-saudagar itu melintas dari tanah Jawa, Sumatera dan sebagainya ke Sumenep. Mereka terkadang singgah untuk istirahat, memperbaiki kapal, mencari bekal untuk perjalanan hingga ada yang menetap untuk beberapa bulan. Seiring dengan berjalannya waktu, mereka otomatis membentuk kelompok masyarakat.

pulau mandangin

Sebelum tahun 80-an Pulau Mandangin dikenal dengan sebutan Pulau Kambing. Ada dua versi yang menyebut pulau ini sebagai pulau kambing. Versi yang pertama menyebut bahwa di Pulau Mandangin terdapat banyak kambing yang berkeliaran. Sedangkan yang kedua karena Pulau Mandangin bentuknya seperti kambing apabila dilihat dari ketinggian.

Sementara itu nama Mandangin sendiri ada beberapa versi yang menyebutkan. Pertama, nama Mandangin yang berasal dari kata pemandangan. Sebab di pulau tersebut terdapat banyak pemandangan yang indah. Lalu yang kedua berasal dari kata Mandhag angin yang berarti pemberhentian angina. Maksudnya adalah pemberhentian angina dari selatan sehingga seolah-olah Pulau Mandangin selalu berangin. Kemudian versi yang terakhir berasal dari kata mandi angin, karena seringnya berangin seolah-olah Pulau Mandangin adalah sebuah pulau yang bermandikan angin.

Perubahan nama dari Pulau Kambing ke Pulau Mandangin konon dimulau saat pemerintahan kepala desa yang menjabat pada tahun 80-an. Nama Mandangin sampai sekarang sudah diakui oleh pihak pemerintah kabupaten sampan hingga nasional. Hal ini selaras dengan perubahan peta pulau Madura.

Kini Pulau Mandangin adalah salah satu destinasi wisata di Sampang. Keindahan alamnya layak dikagumi. Pulau Mandangin dikenal akan keindahan pasir putih dan terumbu karangnya. Dari pulau ini juga dapat menyaksikan indahnya momen senja dan matahari terbit. Untuk menuju Pulau Mandangin dapat dijangkau dengan perahu motor dari Pelabuhan Tangklok. Ongkos sekali sejalan dipatok Rp. 7.500 untuk perjalanan laut selama satu setengah jam.

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *