Tradisi Gumbak – pencucian pusaka di Sampang

 

Di setiap daerah tentunya tidak luput dari sebuah adat istiadat yang ada di dalamnya. Meski berada di tengah gempuran budaya asing, masyarakat Desa Banjar, Kecamatan Kedundung, Sampang, Madura masih melestarikan budayanya, yaitu tradisi gumbak.

Gumbak dalam bahasa Madura memiliki arti mengaduk-aduk air sehingga menimbulkan gelombang (ombak). Masyarakat setempat melakukan ritual pencucian 24 senjata pusaka peninggalan leluhur pada malam tanggal 14 dan 17 Dzulhijjah.

Keyakinan masyarakat setempat bahwa tradisi gumbak sudah berlangsung sejak ratusan tahun yang lalu.

Berawal dari dua orang tokoh sakti yang datang ke Desa Banjar dan menyebarkan agama islam. Dua orang itu disebut Buju’ Toban dan Buju’ Kenek. Mereka berasal dari Kalimantan dan menetap di Desa Banjar.

Keduanya sangat pandai dalam membuat senjata dengan bahan baku dari tanah liat. Senjata tersebut digunakan untuk melindungi warga desa serta untuk berburu. Bentuknya beragam yakni berupa clurit, tombak, linggis, pedang hingga pisau bermata dua. Senjata-senjata yang mereka buat berjumlah 50 buah. Namun, yang masih ada di tangan masyarakat tinggal 24 senjata.

Berdasarkan wasiat dari para leluhur, senjata pusaka tersebut tidak diperjualbelikan atau dimiliki orang yang bukan keturunannya. Senjata pusaka ini dikeramatkan dan disimpan di Masjid Banjar.

Masing-masing senjata diyakini memiliki khasiat yang berbeda. Tiap senjata memiliki nama atau julukan. Seperti se jhelli’ (senjata wanita), se klaras (senjata laki-laki), se ghungseng, dan lain-lain.


Setiap tahun tradisi gumbak digelar bersamaan dengan upacara bersih desa. Tujuan dari ritual gumbak ini selain untuk menyucikan senjata pusaka juga sebagai bentuk rasa syukur, serta memohon agar desa diberikan kemakmuran, kesuburan dan ketentraman.

Upacara diawali oleh gundeggan barupa persiapan permberangkatan yang diikuti oleh semua warga desa dan ulama. Selanjutnya adalah prosesi rerembagan yakni musyawarah yang bertujuan membahas persiapan dan pelestarian tradisi gumbak. Untuk menolak bala, dilakukan penyembelihan kambing hitam di tanah Galis.

Kemudian hasil kurban dibagikan ke semua warga untuk ditanam di depan rumah masing-masing.
Acara selanjutnya adalah okolan atau pertarungan tokoh untuk menentukan dan memilih pembela keamanan desa.

Para pemuda yang terpilih menunjukkan kebolehannya dalam beladiri dan melakukan pertarungan satu lawan satu. Pemenangnya akan mengemban tugas untuk menjaga keamanan desa. Sementara itu yang kalah akan diberi ketupat yang dikalungkan dileher sebagai tanda persaudaraan


Bagi orang Madura, dizkir dan do’a tidak pernah lepas dalam setiap kegiatan. Demikian pula dengan tradisi gumbak. Setelah acara okolan, ulama memimpin warga untuk bertafakkur, melantunkan dzikir dan do’a agar mendapatkan keberkahan.

Kemudian acara selanjutnya adalah penyucian dan pembersihan 24 senjata pusaka. Senjata diasapi, dicuci dengan kemenyan dan dibawa berkeliling dibeberapa tempat yang dikeramatkan oleh masyarakat setempat. Senjata dibawa berkeliling sambil diiringi tabbuwan colo’ (music acapella) serta dilanjutkan dengan tarian kenca’.

Adapun tempat yang dikeramatkan tersebut diantaranya adalah Masjid Berguh, Somor Saronen, Buju’ Tobban, Buju’ Klebun Kene’, Buju’ Karim, Glididhen dan rumah juru kunci “Mak Ramah”. Tradisi gumbak diakhiri dengan terbangan yakni musik rebana yang diiringi dengan tarian “hadrah jidhor”. Setelah semua proses dijalani, 24 senjata pusaka dikembalikan ke tempat penyimpanan semula di Masjid Banjar.

Tradisi gumbak ini tetap ditetap digelar setiap tahunnya oleh masyarakat Desa Banjar. Selain karena memang sebagai bentuk rasa syukur dan untuk memohon kemakmuran, tradisi yang turun-temurun telah dilaksanakan oleh para leluhur masyarakat setempat ini dapat terjaga kelestariannya.

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *